Cin-Lok alias cinta lokasi. Maksudnya adalah rasa cinta yang muncul di hati seseorang kepada seseorang yang lain yang berada dalam satu lokasi yang sama dengannya. Biasanya perasaan itu timbul karena intensitas pertemuan, atau pun perhatian-perhatian kecil yang tak sengaja diberikan.
Cin-Lok alias cinta lokasi. Rupanya bukan hanya milik para selebriti. Yang menjadi gosip anyar tiap pagi, di semua stasiun televisi.
Baru-baru ini, saya terlibat percakapan ringan tapi sebenarnya berporsi berat dengan seorang teman. Salah satu jomblo’ers juga. Tipikal “high quality jomblo” lah. Ia mengatakan pada saya, bahwa belakangan ini rasanya dirinya mudah sekali untuk memiliki perasaan lebih atau menaruh hati pada seseorang lawan jenis. Tidak seperti biasanya. Kali ini bukan hanya rasa simpati atau suka yang timbul, bukan pula ketertarikan yang disebabkan karena penampilan fisik yang oke. Entah kenapa, katanya waktu itu, perasaan itu berkembang menjadi sebuah pengharapan yang lebih dari sekedar kekaguman sementara.
Wah, berat nih. Pikir saya waktu itu. Kami berdua pun sedikit menganalisa peristiwa penting itu. Menyukai atau tertarik dengan lawan jenis. Ah, itu sudah biasa. Perasaan yang lebih bukan hanya sekedar kagum, melainkan ada harapan lebih di sana, dan yang menjadi “korban” adalah teman satu kantor. Kami pun saling melirik. Mengingat usia masing-masing, pekerja kantoran yang tiap pagi sampai sore “terjebak” pada rutinitas yang nyaris membosankan, seringkali tak memiliki waktu cukup untuk menyenangkan diri sendiri, dan yang terakhir…jomblo!
“Kayaknya kamu kena cin-lok deh.”
“Ah, masa sih! Kayak ABG aja. Nggak ah.”
“Jadi? Apa dong namanya kalau bukan cin-lok?”
Saat itu, daripada membahas mengenai definisi cin-lok dan mengkategorikan kasus yang sedang menimpa teman saya itu adalah cin-lok atau bukan, kami memilih untuk menganalisa lebih dalam mengenai penyebab dari timbulnya perasaan tersebut.
Biasanya, rasa suka itu bisa muncul begitu saja tanpa ada penyebab apa-apa. Itu kata sebagian orang. Ada juga yang bilang bahwa setiap perasaan yang muncul pasti ada penyebabnya, walaupun tidak disadari oleh si empunya perasaan. Nah, kami berdua lebih sepakat dengan yang kedua. Menyukai lawan jenis, teman kantor, dan rasa suka itu tiba-tiba saja muncul dan mulai mengganggu setiap kali ada kesempatan untuk berinteraksi secara langsung ataupun tidak. Kalau ditanya, kenapa bisa suka? Jawabannya, mungkin karena orangnya yang simpatik, atau perhatian-perhatian kecil yang diberikan, kebaikannya, sosoknya yang karismatik, atau bahkan keuletannya dalam bekerja. Macam-macam.
Suatu kali, saya nyaris tertawa geli mendengar curhat ringan dari teman saya itu. Katanya, pagi itu tiba-tiba ia merasa senang sebab ia sempat berbicara dengan si “korban cin-lok”. Ketika saya tanyakan apa yang mereka bicarakan, ia menjawab, “Sebenarnya hanya karena aku salah tulis namanya waktu bikin surat. Akhirnya dia nyamperin dan ngasih tahu nama lengkapnya ke aku.”
What? Hanya begitu saja ia langsung berbunga-bunga? Saya geleng-geleng kepala sendiri. Saya jadi ingat, seorang teman yang kuliah di fakultas psikologi pernah bilang, bahwa ada sebuah penelitian yang meneliti sikap orang-orang yang jatuh cinta. Penelitian itu menyebutkan bahwa setiap orang yang sedang jatuh cinta, kadar IQ mereka akan turun sebanyak beberapa poin, alias jadi bodoh! Jatuh cinta? Bodoh? Saya rasa betul juga. Kadang, orang-orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan sedikit kebodohan-kebodohan, atau tindakan di luar rasio. Tiba-tiba, saya merasa kasihan dengan teman saya itu. Jadi bodoh? Kasihan sekali.
Kemudian kami membahas hal lain lagi, yaitu mengapa perasaan suka itu mudah sekali muncul. Bahkan si “korban” sepertinya bukanlah seseorang yang menjadi “tipe yang disukai” olehnya. Jawaban kami waktu itu: perasaan itu muncul karena adanya kebutuhan. Kebutuhan untuk memiliki pasangan sebab umur sudah mencukupi, sebab teman-teman sekantor selalu dengan senang hati menjadi “kompor” dengan memamerkan kemesraan mereka dengan pasangan masing-masing, sebab sekian jam yang dihabiskan di kantor sebanyak lima hari dalam satu minggu pun rutinitas kerja yang monoton menjadi alasannya. Kesepian? Begitulah.
Rupanya cin-lok tidak hanya menjadi trade mark para ABG saja. Tersipu-sipu, tersenyum-senyum sendiri, jantung yang berdebar keras tiba-tiba, dan segala macam tingkah itu rupanya juga dialami para dewasa yang kesepian. Cinta yang tadinya tak ada, atau cinta yang diada-adakan, atau sebenarnya memang tidak ada rasa cinta, yang jelas, seseorang seketika menjadi spesial menempati sepojok mungil hati. Ah,…jomblo.