...Ayyasy Kecil...

My Categories

your name:

url:

your message:

December 15th, 2004

pindah blog !!!!

Posted by dh_devita at 01:24 AM on December 15, 2004.

www.ayyasykecil.blogspot.com

blog baru? boleh donk!!

kasi komen lah !

December 8th, 2004

Cin-Lok

Posted by dh_devita at 01:00 AM on December 8, 2004.

Cin-Lok alias cinta lokasi. Maksudnya adalah rasa cinta yang muncul di hati seseorang kepada seseorang yang lain yang berada dalam satu lokasi yang sama dengannya. Biasanya perasaan itu timbul karena intensitas pertemuan, atau pun perhatian-perhatian kecil yang tak sengaja diberikan.

Cin-Lok alias cinta lokasi. Rupanya bukan hanya milik para selebriti. Yang menjadi gosip anyar tiap pagi, di semua stasiun televisi.

Baru-baru ini, saya terlibat percakapan ringan tapi sebenarnya berporsi berat dengan seorang teman. Salah satu jomblo’ers juga. Tipikal “high quality jomblo” lah. Ia mengatakan pada saya, bahwa belakangan ini rasanya dirinya mudah sekali untuk memiliki perasaan lebih atau menaruh hati pada seseorang lawan jenis. Tidak seperti biasanya. Kali ini bukan hanya rasa simpati atau suka yang timbul, bukan pula ketertarikan yang disebabkan karena penampilan fisik yang oke. Entah kenapa, katanya waktu itu, perasaan itu berkembang menjadi sebuah pengharapan yang lebih dari sekedar kekaguman sementara.

Wah, berat nih. Pikir saya waktu itu. Kami berdua pun sedikit menganalisa peristiwa penting itu. Menyukai atau tertarik dengan lawan jenis. Ah, itu sudah biasa. Perasaan yang lebih bukan hanya sekedar kagum, melainkan ada harapan lebih di sana, dan yang menjadi “korban” adalah teman satu kantor. Kami pun saling melirik. Mengingat usia masing-masing, pekerja kantoran yang tiap pagi sampai sore “terjebak” pada rutinitas yang nyaris membosankan, seringkali tak memiliki waktu cukup untuk menyenangkan diri sendiri, dan yang terakhir…jomblo!

“Kayaknya kamu kena cin-lok deh.”
“Ah, masa sih! Kayak ABG aja. Nggak ah.”
“Jadi? Apa dong namanya kalau bukan cin-lok?”

Saat itu, daripada membahas mengenai definisi cin-lok dan mengkategorikan kasus yang sedang menimpa teman saya itu adalah cin-lok atau bukan, kami memilih untuk menganalisa lebih dalam mengenai penyebab dari timbulnya perasaan tersebut.

Biasanya, rasa suka itu bisa muncul begitu saja tanpa ada penyebab apa-apa. Itu kata sebagian orang. Ada juga yang bilang bahwa setiap perasaan yang muncul pasti ada penyebabnya, walaupun tidak disadari oleh si empunya perasaan. Nah, kami berdua lebih sepakat dengan yang kedua. Menyukai lawan jenis, teman kantor, dan rasa suka itu tiba-tiba saja muncul dan mulai mengganggu setiap kali ada kesempatan untuk berinteraksi secara langsung ataupun tidak. Kalau ditanya, kenapa bisa suka? Jawabannya, mungkin karena orangnya yang simpatik, atau perhatian-perhatian kecil yang diberikan, kebaikannya, sosoknya yang karismatik, atau bahkan keuletannya dalam bekerja. Macam-macam.

Suatu kali, saya nyaris tertawa geli mendengar curhat ringan dari teman saya itu. Katanya, pagi itu tiba-tiba ia merasa senang sebab ia sempat berbicara dengan si “korban cin-lok”. Ketika saya tanyakan apa yang mereka bicarakan, ia menjawab, “Sebenarnya hanya karena aku salah tulis namanya waktu bikin surat. Akhirnya dia nyamperin dan ngasih tahu nama lengkapnya ke aku.”

What? Hanya begitu saja ia langsung berbunga-bunga? Saya geleng-geleng kepala sendiri. Saya jadi ingat, seorang teman yang kuliah di fakultas psikologi pernah bilang, bahwa ada sebuah penelitian yang meneliti sikap orang-orang yang jatuh cinta. Penelitian itu menyebutkan bahwa setiap orang yang sedang jatuh cinta, kadar IQ mereka akan turun sebanyak beberapa poin, alias jadi bodoh! Jatuh cinta? Bodoh? Saya rasa betul juga. Kadang, orang-orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan sedikit kebodohan-kebodohan, atau tindakan di luar rasio. Tiba-tiba, saya merasa kasihan dengan teman saya itu. Jadi bodoh? Kasihan sekali.

Kemudian kami membahas hal lain lagi, yaitu mengapa perasaan suka itu mudah sekali muncul. Bahkan si “korban” sepertinya bukanlah seseorang yang menjadi “tipe yang disukai” olehnya. Jawaban kami waktu itu: perasaan itu muncul karena adanya kebutuhan. Kebutuhan untuk memiliki pasangan sebab umur sudah mencukupi, sebab teman-teman sekantor selalu dengan senang hati menjadi “kompor” dengan memamerkan kemesraan mereka dengan pasangan masing-masing, sebab sekian jam yang dihabiskan di kantor sebanyak lima hari dalam satu minggu pun rutinitas kerja yang monoton menjadi alasannya. Kesepian? Begitulah.

Rupanya cin-lok tidak hanya menjadi trade mark para ABG saja. Tersipu-sipu, tersenyum-senyum sendiri, jantung yang berdebar keras tiba-tiba, dan segala macam tingkah itu rupanya juga dialami para dewasa yang kesepian. Cinta yang tadinya tak ada, atau cinta yang diada-adakan, atau sebenarnya memang tidak ada rasa cinta, yang jelas, seseorang seketika menjadi spesial menempati sepojok mungil hati. Ah,…jomblo.

4 komen, thx yah!!

December 3rd, 2004

Kita Hanya Manusia

Posted by dh_devita at 09:11 AM on December 3, 2004.

Tiba-tiba saja saya merasa kesal dan hati saya tidak tenang. Sebab percakapan yang baru saya lakukan dengan seorang teman. Apa yang kami bicarakan ternyata membangkitkan memori saya mengenai sebuah kejadian yang benar-benar ingin saya lupakan. Sebuah fitnah, ghibah, atau mungkin juga fakta yang telah terjadi menimpa diri saya dan mungkin juga teman-teman saya yang lain. Kesal. Memori itu seketika mengganggu perasaan dan mood saya untuk melakukan sesuatu jadi hilang.

Saya ingat, dulu saya pernah merasakan kekaguman yang luar biasa terhadap diri seorang teman. Dia salah seorang "pemimpin" saya. Katakanlah, seorang ketua sebuah organisasi. Saat itu saya berpikir bahwa saya tidak lagi akan pernah memiliki seorang pemimpin sebaik dirinya. Kepribadiannya, caranya berkomunikasi, kecerdasannya, dan apa yang para anggotanya rasakan dari dirinya. Saat itu, nyaris saja saya menelan bulat-bulat setiap omongan dan mencoba mengikuti apa yang ia lakukan. Kekaguman itu tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Dan ketika tiba saatnya ia melakukan sebuah kesalahan, saya benar-benar terkejut. Selama beberapa saat, diri saya sempat merasa 'oleng', kaget oleh sebuah kewajaran yang seharusnya saya pahami. Peristiwa itu perlahan membuka pikiran saya.

Tak lama kemudian, saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan seorang yang baru saya kenal, yang akhirnya menjadi pemimpin dari sebuah kelompok kerja yang saya ikuti. Saya tercengang, sebab saya seperti kembali menemukan sosok pemimpin ideal pada dirinya. Dan saat itu saya berpikir bahwa sosok yang baru saya temui ini sungguh lebih baik dari seorang yang sebelumnya pernah membuat saya kecewa. Saya pikir, inilah dia sosok pemimpin idaman. Saya pun bertekad untuk menggali dan mempelajari sebanyak mungkin hal yang ada pada dirinya.

Dan ternyata, sekali lagi saya dibuat tercengang, sebab ia melakukan suatu hal yang akhirnya merugikan seluruh anggota yang dipimpinnya, termasuk diri saya. Kekecewaan yang saya rasakan saat itu pastilah sangat besar, hingga saya tak bisa melupakan perbuatannya tersebut dan merasa trauma serta enggan untuk berhubungan dengannya dalam bentuk apapun.

Demikian terjadi yang ketiga kalinya. Dan saya mencoba menarik napas sebentar, berpikir, dan kemudian mencoba sekuat tenaga untuk "berdamai" dengan semua itu. Tak lagi berguna segala umpatan dan kekesalan yang bersarang lama di hati saya. Toh hanya akan membuahkan penyakit tak berkesudahan. Seperti halnya penciptaan kelebihan yang ada dalam diri setiap sosok unik manusia, sebuah kesalahan yang hadir adalah sebuah kewajaran. Sebab ia selalu bisa memperbaikinya, bila ia mau. Sebab ia selalu bisa memilih untuk menjadi lebih baik atau menjadi yang paling buruk sekalipun, sebab Allah menjadikan akal dan hati sebagai pelengkap pada diri manusia.

Keikhlasan untuk memaafkan, adalah mungkin salah satu hal tersulit untuk dilakukan. Memaafkan diri sendiri dan orang lain, dalam setiap ketidaksempurnaan yang selalu tampak. Coba saja kita hitung satu per satu setiap detil kekurangan yang orang lain lakukan. Atau tulislah setiap rinci kekhilafan yang sudah kita sendiri lakukan. Bukan hanya yang kita sadari, melainkan kesalahan-kesalahan kecil yang tak terlihat. Sanggupkah kita? Rasanya tidak.

Saya malu. Sebab masih saja saya mempermasalahkan perbuatan orang-orang lain yang mengganggu ketenangan hati saya. Walaupun kejadian apapun yang mereka lakukan telah demikian menggores hati saya hingga sulit dilupakan. Saya malu. Sebab demikian besar waktu yang telah saya luangkan untuk menghitung dan mengingat-ingat kesalahan orang lain.

Padahal Allah Maha Memaafkan.

Seorang sahabat telah dijaminkan surga, sebab ia terbiasa untuk melapangkan hatinya setiap malam atas setiap kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang terhadap dirinya.

Rasanya saya harus belajar lebih banyak untuk melihat diri sendiri dan orang lain sebagai "manusia". Mensyukuri segala kelebihan yang ada, menyadari bahwa suatu saat ia pun dapat berbuat salah, dan hal yang cukup sulit dilakukan, memaafkannya.

Belajar memberi kesempatan pada diri saya dan orang lain untuk menjadi "manusia", dengan mengerti bahwa setiap saat terbentang kesempatan untuk memperbaiki diri, seberat apapun kesalahan tersebut.

dedicated to Dhyny, Attin, Delia, and all my special friends...

kasi komen lah !

November 26th, 2004

[hadiah pagi] [hadiah sore]

Posted by dh_devita at 01:07 AM on November 26, 2004.

Bantu Aku Menjelang Cinta

Berhenti di tepian asa
Lelah menatap hadirnya kasih
Saat pendarmu meniti arah
Menujuku engkau kembali,

Bantu aku menjelang cinta ...

dedicated for Vita

[dari Suhu Bayu Gaw]

ps. trims berat yah, Suhu! dimuat deh .... hihihi....

"usai sudah jiwa lelah berkayuh dalam resah"
(from Husnul)

ps. trims yah, cintakuwh...

2 komen, thx yah!!

November 24th, 2004

Sebutir Debu Saja....

Posted by dh_devita at 05:49 AM on November 24, 2004.

Abis baca blog-nya Attin. Terbengong sebentar, dan langsung kepikiran buat nulis di blog juga. Inget kemaren, Suhu Bayu Gaw nanya, "Vit, blog-nya belom di up date yah?" Iya. Belom. Banyak sih yang numpuk di kepala, nyempil2 sampe nyaris jebol, nggak muat, pengen tumpah. Mulai dari mana ya?

Refleksi Ramadhan.
Gagal kah? Berhasil kah? Tulisan Attin di blog-nya menggelitik saya untuk menulis sesuatu juga. Evaluasi yang terlambat? Nggak juga. Timing 'nulis'nya aja yang telat. Defense nih ye...hehehehe.

Ramadhan tahun ini, seperti biasa, kegairahan di masa-masa awal bulan suci menyentil saya berkali-kali untuk mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi pada Ramadhan tahun kemarin. Pokoknya, tahun ini musti lebih baik!!! *ngotot*

Dan di perjalanan hari-hari selanjutnya,...ujian-ujian kecil itu datang dan pergi. Ramadhan kali ini, saya harus terpaku di meja kerja di kantor, pulang selalu lepas maghrib dengan badan pegal dan nyaris kehilangan semangat untuk mengisi malam. Bagaimana dengan tilawah? Sholat sunnah? Dzikir? Berinfak?.....Sebuah perenungan panjang untuk kembali bertekad supaya tak membiarkan Ramadhan selanjutnya terlewati tanpa perbaikan dan peningkatan. Tidak perlu ada penyesalan berkepanjangan. Rasanya, mulai dari sekarang saya harus belajar lagi menghitung secara matematis berapa jumlah kerugian yang saya alami tahun ini, melewati detik-detik penuh ganjaran kebaikan yang harusnya bisa saya raih, sekaligus penataan hati menyangkut soal keikhlasan dalam beramal. Sedikit berkualitas? Atau banyak berkualitas? Nggak perlu berdalih. Saya memang harus berusaha lebih keras.

Sepuluh hari terakhir, full of excitement!
Selalu banyak yang saya alami selama waktu emas tersebut. Tahun lalu, kegembiraan itu saya lewati selama 5 hari di Masjid Baitul Ihsan (BI), Budi Kemuliaan. Tahun ini, 8 hari. Subhanallah walhamdulillah...Dan beberapa malam di antaranya saya lewati sendirian, tanpa teman ngobrol. Sendirian. Enak. Sebab mendekati akhir, saya benar-benar butuh waktu berduaan dengan Sang Kekasih. Rasanya, kalau bisa, saya mau orang-orang di sekeliling saya, yang juga berlomba merebut perhatian dari-Nya, tak menyaingi saya. Saya mau benar-benar berduaan saja!

Ada sesuatu yang hilang di Ramadhan kali ini, ada sesuatu yang kurang di Ramadhan kali ini, namun ada juga sesuatu yang membuat saya berdecak kagum sekaligus heran dan bersyukur bahwa Ia telah memberikan saya sesuatu yang terbaik yang membuat saya sekali lagi bertambah yakin bahwa Allah sungguh Maha Tahu apa yang paling dibutuhkan oleh hamba-Nya, Maha Pengabul Doa, Maha Pemberi Nikmat, Maha Mendengar sekecil apapun lintasan hati, pikiran, dan ucapan hamba-hamba-Nya.

Keajaiban. Adalah kenikmatan tersendiri yang memantapkan dan membersihkan hati yang seringkali tergelincir karena khilaf dan dosa. Bukan karena telah mendapatkan kesenangan lantas saya berkata begitu. Bukan. Namun saya sekali lagi bertambah yakin, bahwa diri saya benar-benar tak punya kuasa apapun untuk meragukan (walau sedikit saja) kekuasaan Allah atas makhluk-Nya.

*minjem teks SNADA* Saya benar-benar hanya sebutir debu di hamparan pantai-Nya.


5 komen, thx yah!!

November 11th, 2004

Posted by dh_devita at 05:39 AM on November 11, 2004.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Hujurat : 12)


Salah satu kekhilafan manusia adalah terhadap sesamanya. Permintaan maaf itu pun berlaku bila disampaikan langsung kepada yang bersangkutan. Salah satu khilaf itu adalah soal lisan, dan menggunjingkan bahkan melemparkan fitnah pada saudaranya sendiri. Yang telah dihinakan layaknya memakan bangkai dari saudaranya tersebut.

Sepenuh hati,
saya mengiba maaf dari semua,

Mari kembali fitri....
Taqobbalallahu minna wa minkum

2 komen, thx yah!!

November 8th, 2004

i'tikaf lagi....

Posted by dh_devita at 03:11 AM on November 8, 2004.

Sedih...tadi malem sampe rumah jam setengah sebelas, n capek banget. Mandi, minum bentar, trus sholat isya n taraweh, n tilawah sampe jam 12an. Then I go to sleep,...ngantuks... niat mo bangun jam 3 buat qiyamullail...tapi trus dengan asiknya tidur sampe dibangunin sahur. Niatnya pulang untuk bicarain sesuatu dengan ortu,...tapi tak sanggup lah...teler...Hiksss....I missed one night!

Dan pagi ini mas Bayu nanya, "i'tikaf gak semalem?" trus aku bilang "nggak. kenapa? lailatul qadar ya?" dia jawab "nggak, saya kan gak bilang gitu. Cuma dari semua yang i'tikaf, termasuk saya dan pak Ihsan, pada bilang bahwa tadi malem itu dingin banget dan ngantuk banget. Semua jamaah yang di at-tin pada bilang gitu."

Dalem hatiku sediy deh...coz tadi malem aku pas taraweh juga ngerasain dingin/sejuk, padahal sholatnya di ruang tengah n gak pake kipas angin. Tapi aku ngerasa 'ketinggalan' momen penting or rugi banget bolos i'tikaf sehari kemaren. Hiksss....sediiiiihhh....

Ah, tapi...lailatul qadar toh hanya Allah yang tau dan ia ghaib. Toh Allah tetep akan mencatat semua niat menjadi sebuah kebaikan walau ia belum terlaksana. Kan Allah maha tahu semua isi hati. Aduuuuh.....tapi tetep aja sediih!!!

Yah, wallahu a'lam ... sepuluh hari terakhir masih berjalan. Allah Maha Tahu mana hamba-hamba-Nya yang berjuang keras menjadikan Ramadhan ini membekaskan sesuatu pada diri mereka.

Ah, jadi inget,...malam ahad kemarin, sendirian di masjid BI, temen2 yang janji i'tikaf bareng pada gak dateng. Tapi, malem itu bener2 nikmat...bener2 nikmat! Dan aku tersungkur sambil menangis pas subuh berjamaah. Mungkin hari itu memang dihadiahkan Allah buatku, supaya aku bisa tenang berkhalwat dengan-Nya.

Hiksss....malem ini, harus i'tikaf lagi!!!



3 komen, thx yah!!

« Newer | »